Manggungmangu (27/6) - Melestarikan Warisan Leluhur: Semarak Merti Desa di Kecamatan Plantungan
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak maju, beberapa desa di Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal, tetap setia menjaga dan melestarikan budaya warisan leluhur. Salah satunya adalah melalui tradisi merti desa — sebuah bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta dan para leluhur atas berkah dan keselamatan yang telah diberikan kepada warga desa.
Kegiatan ini umumnya dilaksanakan setiap bulan Suro (Muharam), bulan yang dianggap sakral oleh masyarakat Jawa. Merti desa menjadi momentum spiritual dan sosial yang menyatukan warga dalam suasana kebersamaan, kesakralan, sekaligus hiburan rakyat yang meriah.
Setiap desa memiliki cara dan ciri khas tersendiri dalam menggelar tradisi ini, namun satu hal yang menyatukan: pelestarian nilai-nilai Jawa tetap dijaga dengan penuh takzim.
Salah satu contohnya adalah Desa Manggungmangu, yang secara rutin menyelenggarakan merti desa setiap tanggal 1 Suro. Acara dimulai dengan kidungan di bawah pohon beringin tua yang berada di depan balai desa — sebuah simbol penghormatan kepada alam dan para leluhur. Doa-doa dilantunkan dengan iringan tembang-tembang Jawa yang sarat makna, membangkitkan nuansa spiritual yang khidmat.
Menjelang malam, suasana desa berubah menjadi lebih semarak. Warga tumpah ruah menyaksikan pagelaran seni tayub, yang diselenggarakan dengan penuh kemeriahan namun tetap dalam koridor adat Jawa. Iringan gamelan, gerakan tari, serta interaksi antara penari dan warga menghadirkan suasana suka cita yang hangat dan membaurkan semua lapisan masyarakat.
Tradisi serupa juga dijumpai di desa-desa lain di Plantungan, seperti Desa Bendosari, Desa Mojoagung, dan Desa Tlogopayung, yang menyuguhkan beragam acara adat, mulai dari kirab budaya, sedekah bumi, hingga pertunjukan wayang kulit. Seluruh rangkaian kegiatan menjadi cermin dari kecintaan masyarakat terhadap kearifan lokal.
Merti desa bukan hanya sekadar acara tahunan, melainkan identitas budaya yang terus diwariskan lintas generasi. Dengan tetap mengakar pada pakem-pakem Jawa, kegiatan ini menjadi benteng kebudayaan sekaligus pengingat bahwa di balik kemajuan zaman, ada nilai-nilai luhur yang tidak boleh dilupakan.